Hoaks Sebagai Tantangan Media Mainstream di Era Digital

Briyan Edbert, Jacinda Aurelia, Angela Julien Lintang, Joana Gladys Chaterina Foes

Abstract


The rapid development of digital technology has significantly transformed patterns of communication and information dissemination in society. Social media has become the primary source of information because it offers speed, accessibility, and high interactivity. However, this transformation has also increased the spread of hoaxes, disinformation, and AI-based manipulation such as deepfake technology, which pose serious challenges to mainstream media. This study aims to analyze hoaxes as a challenge for mainstream media in the digital era, examine their impact on media credibility, and identify strategies used by mainstream media to address the spread of false information. This research employs a qualitative method with a library research approach by analyzing books, scientific journals, research articles, and relevant online sources related to hoaxes, digital media, mainstream media, and digital disinformation. The findings indicate that the spread of hoaxes is influenced by low levels of digital literacy, widespread social media usage, the habit of sharing information without verification, and the post-truth phenomenon in which emotions often dominate objective facts. The study also discusses the deepfake case involving Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy as an example of AI-based disinformation capable of influencing public opinion through realistic multimedia manipulation. Mainstream media face a dual challenge: delivering information quickly while maintaining accuracy, verification, and journalistic ethics. Nevertheless, mainstream media still possess important advantages such as editorial systems, verification processes, and journalistic codes of ethics that make them more credible than anonymous information sources on social media. Furthermore, digital literacy, fact-checking, and collaboration among governments, media institutions, educational institutions, digital platforms, and society are essential strategies for combating hoaxes and maintaining a healthy information ecosystem in the digital era. This study concludes that hoaxes and AI-based disinformation not only threaten the credibility of mainstream media but also affect social stability, political conditions, and the quality of democracy in digital society.

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pola komunikasi dan penyebaran informasi di masyarakat. Media sosial kini menjadi sumber utama informasi karena menawarkan kecepatan, kemudahan akses, dan tingkat interaktivitas yang tinggi. Namun, transformasi tersebut juga meningkatkan penyebaran hoaks, disinformasi, serta manipulasi berbasis kecerdasan buatan seperti teknologi deepfake yang menjadi tantangan serius bagi media mainstream. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hoaks sebagai tantangan dalam media mainstream di era digital, mengkaji pengaruhnya terhadap kredibilitas media, serta mengidentifikasi strategi yang dilakukan media mainstream dalam menghadapi penyebaran informasi palsu. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis buku, jurnal ilmiah, artikel penelitian, dan sumber daring yang relevan mengenai hoaks, media digital, media mainstream, dan disinformasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran hoaks dipengaruhi oleh rendahnya literasi digital masyarakat, tingginya penggunaan media sosial, kebiasaan menyebarkan informasi tanpa verifikasi, serta fenomena post-truth yang membuat emosi lebih dominan dibanding fakta objektif. Penelitian ini juga membahas kasus deepfake Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai contoh disinformasi berbasis AI yang mampu memengaruhi opini publik melalui manipulasi multimedia yang tampak realistis. Media mainstream menghadapi tantangan ganda, yaitu tuntutan untuk menyampaikan informasi secara cepat sekaligus menjaga akurasi, verifikasi, dan etika jurnalistik. Meskipun demikian, media mainstream masih memiliki keunggulan berupa sistem redaksi, proses verifikasi, dan kode etik jurnalistik yang membuatnya lebih kredibel dibandingkan sumber informasi anonim di media sosial. Selain itu, literasi digital, fact-checking, dan kolaborasi antara pemerintah, media massa, lembaga pendidikan, platform digital, dan masyarakat menjadi strategi penting dalam menangkal hoaks dan menjaga ekosistem informasi yang sehat di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hoaks dan disinformasi berbasis AI tidak hanya mengancam kredibilitas media mainstream, tetapi juga memengaruhi stabilitas sosial, politik, dan kualitas demokrasi di masyarakat digital.


Keywords


hoaxes, mainstream media, digital literacy, deepfake, disinformation, social media, credibility.

Full Text:

PDF 10-18

References


Aliah, N., Fadillah, N., Yusuf, Y., Pindan, N., & Novia, L. (2025). Etika jurnalisme di era digital: Tantangan dan strategi dalam menghadapi hoaks dan disinformasi. Jurnal Jurnalistik Dan Media, 1(1), 14–19.

Aziz, Z. A. (2025). Peran literasi media dalam menangkal penyebaran hoaks di era digital. Iotida: Journal of Da’wah and Communication, 5(2), 248–264.

Babelprov. (n.d.). Pentingnya daya kritis masyarakat tangkal hoax. Retrieved https://babelprov.go.id/artikel_detil/pentingnya-daya-kritis-masyarakat-tangkal-hoax

Bekti Prawito. (2021). Tantangan Dan Keunggulan Media Konvensional Dalam Era Digital. Universitas Pamulang, 3(2021), 1–15.

Dinas Komunikasi, I. dan S. K. C. (n.d.). Mengenal lebih jauh tentang hoax. Retrieved https://dkis.cirebonkota.go.id/artikel/mengenal-lebih-jauh-tentang-hoax

Fitrianingsih, I., Salma, Q., Sartika, R., & Nashrudin, A. (2026). Tantangan penerapan etika jurnalistik pada media online di Indonesia. PANDITA: Interdisciplinary Journal of Public Affairs, 9(1), 149–162.

Juditha, C. (2018). Interaksi komunikasi hoax di media sosial serta antisipasinya. Jurnal Pekommas, 3(1), 31–44.

Marchanda, F., & Akmaluddin, T. (2024). Dinamika media komunikasi: Tantangan, peluang, dan transformasi dalam era digital. ENCOMMUNICATION: Journal of Communication Studies.

Novanta, E. I. S., & Septiansyah, A. (2025). Bahaya hoaks di era digital dan upaya strategis untuk mencegahnya. Jurnal Media Akademik, 3(12).

Nugroho, A. , & Kurniawati, D. (2021). Strategi Literasi Digital untuk Menangkal Hoaks di Kalangan Remaja. Jurnal Ilmiah Komunikasi, 10(1), 45–56.

Parlementaria. (2018). Hoax jadi tantangan media mainstream. https://www.parlementaria.com/2018/02/09/hoax-jadi-tantangan-media-mainstream/

Sarjito, A. (2021). Hoaks, disinformasi, dan ketahanan nasional: Ancaman teknologi informasi dalam masyarakat digital Indonesia. Journal of Governance and Local Politics, 5(2), 175–186.

Suharyanto, C. E. (2019). Analisis berita hoaks di era post-truth: Sebuah review. Jurnal Masyarakat Telematika Dan Informasi, 10(2), 37–49.

Syaputra, M., & Sartika, K. (2025). Peran jurnalisme warga dalam menangkal hoaks di era digital. Jurnal Media Dan Komunikasi, 2(2), 50–55.

Tresnawati, A., Darmawan, A., & Surachman, A. (2023). Peran penting literasi digital dalam memerangi hoaks dan ujaran kebencian di media sosial sebagai tantangan komunikasi di masyarakat digital. Jurnal Omnicom, 9(2).

Stubbs, J., & Bing, C. (2022). Deepfake footage purports to show Ukrainian president capitulating. Reuters. https://www.reuters.com/world/europe/deepfake-footage-purports-show-ukrainian-president-capitulating-2022-03-16/


Refbacks

  • There are currently no refbacks.